Aku hanyalah seorang laki-laki biasa
Tanpa kelebihan yang bias dilebihkan dari yang lain
Tanpa kesanggupan kuat yang bisa menjadi pegangan
Berpikir per-individual
Bertingkah tanpa social
Bertindak tak menoleh ekosistem
Egoism terpendam dalam, sedalam-dalamnya
Tanpa bias diangkat ke dasar permukaan
Aku hanyalah seorang pria serba kekurangan
Penglihatan yang tiap priode menambah beban
Pegangan yang acap menjadi bahan nafsu
Langkah membawa ke gua hitam
Badan terperungkup dalam duniawi
Pikiran yang tak pasti, hitam putihnya
Aku hanyalah seorang santri sederhana
Minim ilmu agama, tak tahu ajar pula..
Mengkerucut hingga terperuncut dalam sirat keilmuan
Berpikir, melihat, memegang, melangkah, dan memakan semuanya
Bak kepompong yang santai riang, tak kenal siang malam
Besoknya, malah menjadi siput loyo
Aku hanyalah seorang mahasiswa miskin
Tak menyangka, aku ini miskin
Jarang sadar, aku ini miskin
Kadang lupa, aku ini miskin
Sengaja dilupa-lupakan, aku ini miskin
Terbawa arus, hingga terus menjadi miskin
Aku hanyalah seorang laki-laki biasa
Aku hanyalah seorang pria serba kekurangan
Aku hanyalah seorang santri sederhana
Aku hanyalah mahasiswa yang miskin
Menunggu hingga akhir menjemput
Mengharap besar perwujutan baru
Hingga…
Bergetar jiwa bergetar, menggelepar hingga etrkapar
Terlempar keruang waktu baru, idamanku
